auliasupport

Blog

Akhlak Terhadap Lingkungan

Posted by auliasupport on December 20, 2009 at 9:25 AM

Misi agama Islam adalah mengembangkan rahmat bukan hanya kepada manusia tetapi juga kepada alam dan lingkungan hidup. Misi tersebut tidak terlepas dari tujuan diangkatnya manusia sebagai khalifah di muka bumi,yaitu sebagai wakil Allah yang bertugas mamakmurkan, mengelola dan melestarikan alam. Berakhlak kepada lingkungan hidup adalah menjalin dan mengembangkan hubungan yang harmonis dengan alam sekitarnya.


Yang dimaksud lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa.


Pada dasarnya, akhlak yang diajarkan Al-Quran terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Dimana kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.




Dalam pandangan akhlak Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang, atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.


Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, "Setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri."


Binatang, tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa semuanya diciptakan oleh Allah SWT dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah "umat" Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.


Karena itu dalam Al-Quran surat Al-An'am (6): 38 ditegaskan bahwa binatang melata dan burung-burung pun adalah umat seperti manusia juga, sehingga semuanya --seperti ditulis Al-Qurthubi (W. 671 H) di dalam tafsirnya-- "Tidak boleh diperlakukan secara aniaya."

Jangankan dalam masa damai, dalam saat peperangan pun terdapat petunjuk Al-Quran yang melarang melakukan penganiayaan. Jangankan terhadap manusia dan binatang, bahkan mencabut atau menebang pepohonan pun terlarang, kecuali kalau terpaksa, tetapi itu pun harus seizin Allah, dalam arti harus sejalan dengan tujuan-tujuan penciptaan dan demi kemaslahatan terbesar.


Apa saja yang kamu tebang dari pohon (kurma) atau kamu biarkan tumbuh, berdiri di atas pokoknya, maka itu semua adalah atas izin Allah ... (QS Al-Hasyr [59]: 5).


Bahwa semuanya adalah milik Allah, mengantarkan manusia kepada kesadaran bahwa apa pun yang berada di dalam genggaman tangannya, tidak lain kecuali amanat yang harus dipertanggungjawabkan. "Setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap angin sepoi yang berhembus di udara, dan setiap tetes hujan yang tercurah dari langit akan dimintakan pertanggungjawaban manusia menyangkut pemeliharaan dan pemanfatannya", demikian kandungan penjelasan Nabi saw tentang firman-Nya dalam Al-Quran surat At-Takatsur (102): 8 yang berbunyi, "Kamu sekalian pasti akan diminta untuk mempertanggungjawabkan nikmat (yang kamu peroleh)." Dengan demikian bukan saja dituntut agar tidak alpa dan angkuh terhadap sumber daya yang dimilikinya, melainkan juga dituntut untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Pemilik (Tuhan) menyangkut apa yang berada di sekitar manusia.


“Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta yang berada di antara keduanya, kecuali dengan (tujuan) yang hak dan pada waktu yang ditentukan (QS Al-Ahqaf [46]: 3).”


Pernyataan Tuhan ini mengundang seluruh manusia untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, kelompok, atau bangsa, dan jenisnya saja, melainkan juga harus berpikir dan bersikap demi kemaslahatan semua pihak. Ia tidak boleh bersikap sebagai penakluk alam atau berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Memang, istilah penaklukan alam tidak dikenal dalam ajaran Islam. Istilah itu muncul dari pandangan mitos Yunani.


Menurut Al-Quran yang menundukkan alam adalah Allah. Manusia tidak sedikit pun mempunyai kemampuan kecuali berkat kemampuan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.


“Mahasuci Allah yang menjadikan (binatang) ini mudah bagi kami, sedangkan kami sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk itu (QS Az-Zukhruf [43]: 13)”


Jika demikian, manusia tidak mencari kemenangan, tetapi keselarasan dengan alam. Keduanya tunduk kepada Allah, sehingga mereka harus dapat bersahabat.


Al-Quran menekankan agar umat Islam meneladani Nabi Muhammad saw yang membawa rahmat untuk seluruh alam (segala sesuatu). Untuk menyebarkan rahmat itu, Nabi Muhammad saw bahkan memberi nama semua yang menjadi milik pribadinya, sekalipun benda-benda itu tak bernyawa. "Nama" memberikan kesan adanya kepribadian, sedangkan kesan itu mengantarkan kepada kesadaran untuk bersahabat dengan pemilik nama.

Nabi Muhammad saw telah mengajarkan : "Bertakwalah kepada Allah dalam perlakuanmu terhadap binatang, kendarailah, dan beri makanlah dengan baik."

Di samping prinsip kekhalifahan yang disebutkan di atas, masih ada lagi prinsip taskhir, yang berarti penundukan. Namun dapat juga berarti "perendahan". Firman Allah yang menggunakan akar kata itu dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 11 adalah

 

“Janganlah ada satu kaum yang merendahkan kaum yang lain. (QS. Al-Hujurat ayat 11)”

“Dan Dia (Allah) menundukkan untuk kamu; semua yang ada di langit dan di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya (QS Al-Jatsiyah [45]: 13).”


Ini berarti bahwa alam raya telah ditundukkan Allah untuk manusia. Manusia dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Namun pada saat yang sama, manusia tidak boleh tunduk dan merendahkan diri kepada segala sesuatu yang telah direndahkan Allah untuknya, berapa pun harga benda-benda itu. Ia tidak boleh diperbudak oleh benda-benda itu. Manusia dalam hal ini dituntut untuk selalu mengingat-ingat, bahwa ia boleh meraih apa pun asalkan yang diraihnya serta cara meraihnya diridhoi Allah SWT, sesuai dengan kaidah kebenaran dan keadilan.


Akhirnya kita dapat mengakhiri uraian ini dengan menyatakan bahwa keberagamaan seseorang diukur dari akhlaknya. Nabi bersabda : "Agama adalah hubungan interaksi yang baik."


Beliau juga bersabda: "Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari kiamat, melebihi akhlak yang luhur. (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).


Umat Islam sudah diingatkan Allah dalam Al-Quran tentang bahaya dari ulah-ulah manusia yang tidak bertanggungjawab terhadap lingkungannya. Semua kerusakan di alam ini jelas akibat manusia yang kurang tidak menyadari efek dari tingkahnya itu. Membuat sampah disembarang tempat dan ke parit atau got kompleks mengakibat aliran pembuangan mampet dan menimbulkan bau tak sedap. Ketika hujan turun, air yang mengalir tertahan hingga meluap ke jalan dan mengakibatkan banjir atau tergenang. Air yang tergenang sampai berhari-hari menimbulkan penyakit berupa kutu air karena bercampur dengan kotoran dan merusak aspal jalan seperti berlobang dan pecah-pecah. Sangat tampak dan terasa hal itu bila sedang menggunakan kendaraan badan kita bergoyang dan tak enak saat mengendarakan atau menumpangnya. Tak jarang setelah turun hujan kita sering menemukan kemacetan jalan akibat banjir atau yang menggenang. Juga kita lihat di media massa (cetak,elektronika, atau online) tentang kerugian material dan penyakit yang diderita masyarakat yang terkena banjir. Itu semua terjadi akibat dari kecerobohan dan ketidaksadaran manusia terhadap lingkungan sekitarnya.


Masalah kepedulian dan kesadaran terhadap alam sekitar atau lingkungan hidup manusia berpokok dari akhlak manusia itu sendiri. Kurangnya pemahaman keimanan (akidah) dan keislaman (syariat) di masyarakat menyebabkan tidak tumbuhnya perilaku atau akhlak yang terpuji pada diri seseorang. Ilmu yang berkaitan dengan masalah akhlak mulia ini memang sejak di Taman Kanak-kanak/Taman Pendidikan Al-Quran (TK/TPA) telah diajarkan oleh guru atau ustadz-ustadzah yang mengajarkan beserta dalil dan praktiknya. Namun, bila ditelusuri, bukannya tidak berhasil dalam mengajarkan akhlak mulia, tapi baru sekadar menjadi wawasan atau ilmu semata. Akhlak mulia yang dipelajari oleh bkita semua belum menjadi bagian dari kehidupan; sehingga dalil atau ilmu yang didapat sejak kecil sampai dewasa tidak berbekas dan belum berwujud.

 

Sekadar contoh, bila kita berkunjung ke pesantren, masjid, dan sekolah di daerah, tak jarang kita menemukan lingkungan yang kurang bersih: sampah bekas makanan berserakan, bak air penuh lumut dan jentik, kakus yang baunya menyangat sampai keluar, air bekas kencing bercampur dengan buang hajat terapung karena tersumbatnya saluran air, dan lainnya. Itu terjadi tidak hanya di daerah, tapi juga di kota-kota besar, terutama di lingkungan instansi pemerintah dan kampus-kampus. Memang ini menjadi tugas pekerja kebersihan. Tapi bila hanya mengandalkan mereka yang serba terbatas dan kadang kelelahan karena banyak yang diurusinya, kebersihan lingkungan dan kesehatan tubuh tak akan terasa oleh kita semua. Urusan kebersihan dan kesehatan bukan hanya urusan petugas kebersihan, tapi menjadi urusan kita semua: dari pejabat tertinggi dan tinggi negara hingga kondektur dan sopir atau mereka yang sehari-hari berada di jalanan. Saya kira hal ini yang harus dicermati oleh semua orang, baik itu pendidik maupun pihak-pihak lainnya.


Menurut saya, pangkal persoalannya terletak pada akhlak. Memang harus diakui persoalan akhlak bukan perkara yang gampang, yang sekali membalik tangan berubah hanya dengan kata simsalabim abragkatabrag. Tidak semudah itu. Urusan akhlak adalah masalah kebiasaan dan pembiasan hidup serta pemahaman agama yang menyerap dalam diri hingga berwujud dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang hidupnya tidak terbiasa atau acuh tak acuh terhadap kebersihan di rumah dan lingkungan sekitarnya yang tak mendukung, maka menerapkan akhlak mulia terhadap lingkungan akan terasa berat.


Prof.Dr.H.M.Quraish Shihab,M.A., dalam buku “Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat” menerangkan bahwa akhlak terhadap lingkungan meliputi segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa. Menurutnya, akhlak terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah, yang mengharuskan adanya interaksi antara manusia dengan sesama dan manusia terhadap alam sekitarnya. Yang berarti setiap manusia dituntut untuk bisa menghormati prosesi kehidupan alamiah yang sedang berjalan dan harus bertanggung jawab terhadap semua perusakan yang dilakukannya. Hal ini bisa tumbuh apabila kita menyadari bahwa semua yang terdapat di alam semesta adalah milik Allah dan memiliki ketergantungan kepada-Nya. Bila seorang Muslim menyadari hal ini, maka ia akan memperlakukan semua yang ada sebagai bagian dari kesatuan ”umat” Tuhan yang harus kita perlakukan dengan baik.


Mengenai hal ini Allah Ta`ala berfirman, “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat seperti kamu” (QS Al-An’am [6]: 38); “Apa saja yang kamu tebang dari pohon (kurma) atau kamu biarkan tumbuh, berdiri di atas pokoknya, maka itu semua adalah atas izin Allah” (QS Al-Hasyr [59]: 5); dan “Kamu sekalian pasti akan diminta untuk mempertanggungjawabkan nikmat (yang kamu peroleh)” (QS At-Takatsur [102]: 8).


Dalam sebuah hadits Rasulullah saw menyatakan bahwa kebersihan itu bagian dari iman. Beliau juga bersabda dalam sebuah hadits—yang dikutip Quraish Shihab—bahwa “setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap angin sepoi yang berhembus di udara, dan setiap tetes hujan yang tercurah dari langit akan dimintakan pertanggungjawaban manusia menyangkut pemeliharaan dan pemanfatannya.


Harus diakui secara sadar bahwa lingkungan atau alam semesta ini merupakan milik Allah. Kita selaku khalifah-Nya bertanggungjawab memelihara, merawat, dan sadar bahwa semua yang ada dan berhubungan dengan keseharian kita—seperti menjaga lingkungan agar bersih dan tubuh agar sehat—adalah amanat yang akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat.


Lingkungan hidup merupakan dukungan terhadap kehidupan dan kesejahteraan, bukan saja terhadap manusia akan tetapi juga bagi makhluk yang lain seperti tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu lingkungan harus tetap terjaga keserasian dan kelangsungan hidupnya sehingga secara berkesinambungan tetap dalam fungsinya sebagai pendukung kehidupan.


"Ia memancarkan daripadanya mata air dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh (semua) itu untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." (Al Nazi'at : 31-32)”


Akhlak terhadap lingkungan dapat diwujudkan dalam bentuk perbuatan insan yaitu dengan menjaga keserasian dan kelestarian serta tidak merusak limgkungan hidup. usaha-usaha yang dilakukan juga harus memperhatikan masalah-masalah kelestarian lingkungan. Apa yang kita saksikan saat ini adalah bukti ketiadaan akhlak terhadap lingkungan. Sehingga akhirnya , akibatnya menimpa manusia sendiri. Banjir, tanah longsor, kebakaran, dan isu yang sering dibicarakan yaitu "global warming" sedang mengancam manusia. Allah telah Berfirman:


" Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Ar Rum 41)”


"Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. dan janganlh kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. " ( al Qashas : 77)”


" Dan apabila ia berpaling , ia berjalan di bumi, untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan". ( Albaqarah 205)”


" Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepaa orang-orang yang berbuat baik." (Al A'raf : 56)”


Nampaknya kita saat ini sangat terkaburkan dengan apa yang dinamakan akhlak. Begitu santernya masalah tentang sexuality yang terealisasi ke dalam bentuk-bentuk pornografi-aksi membuat seakan apa yang kita namakan akhlak adalah hanya mengkaji seputar masalah alat kelamin saja. Berbagai permasalahn sexual selalu hangat untuk dibicarakan dalam berbagai kajian. Permasalahan sexuality nampaknya telah menyisihkan permasalahan-permasalahan dalam akhlak yang seharusnya saat ini merupakan hal penting untuk dikaji dan digembor-gemborkan karena menyangkut kehidupan manusia di bumi, yaitu akhlak kita terhadap alam dimana kita hidup.


Lingkungan yang merupakan tempat eksistensi kehidupan manusia, saat ini sedang mengalami krisis. Akan tetapi apakah hal ini pernah menjadi topic yang menarik untuk dikaji dan menjadi wacana dalam berbagai kajian akhlak? Mungkin hanya segelintir saja kita yang merasa peduli, yang lainnya tampaknya lebi terfokus kepada “akhlak alat kelamin” saja. Begitu ada sedikit permasalahn seputar sexuality yang mencuat, begitu cepatnya permasalahan itu dikaji dan dibahas untuk mencari penyelesainnya. Tetapi saat alam ini sedang dilanda krisis lingkungan hidup, adakah kajian-kajian yang diadakan untuk mencari penyelesaianya?Apakah wacana tentang krisis lingkungan menjadi pembicaraan yang hangat dalam kajian akhlak seorang muslim?Bukankah berbagai permasalahan lingkungan seperti banjir, tanah longsor, pencemaran, pemanasan global adalah menyangkut akhlak seorang muslim. Bagaimana perilaku muslim terhadap lingkungan dan alam ini untuk menjaga eksistensinya?


Jadi intinya, kita sebagai umat Islam harus sadar untuk memelihara kelestarian lingkungan hidup, menjaga dan memanfaatkan alam terutama hewani dan nabati, flora dan fauna yang sengaja diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia, dan juga kita harus sayang kepada sesama makhluk hidup.


 


Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments

Semangat adalah segala galanya dalam melakukan segala aktivitas ^^

Motivasi


Motivasi penarik ialah jika motivasi yg datang biasanya dari luar... dan biasanya berupa hal2 yg indah & menyenangkan.. tapi biasanya kekuatan pengaruhnya lemah buat kita...
Misalnya, ada tantangan fear factor... Kamu ditawari, berani ga loncatin ke batu sebrang yg di tengahnya ada jurang sedalam 40 km... trus kalo kamu bisa kamu bakal dapet uang 50juta... Nah itu disebut motivasi penarik, karena ada hal yang menarik kita untuk mencoba tantangan itu... Bakal ada yg mau loncat,,,,,, tapi ada juga yg ga mau kan? Itulah makanya pengaruh kekuatannya lemah buat kita.


Sedangkan motivasi pendorong ialah motivasi yg dateng dari dalam... Misalnya, kamu disuruh loncatin jurang tadi tapi bukan buat uang 50juta... tapi demi keluarga kamu. Kalo kamu ga mau loncat nanti keluarga kamu mati... Dengan sendirinya, karna faktor kecintaan kita pada mereka, maka kita rela loncatin jurang walau ga dapet hadiah yang penting keluarga kita selamat... iya kan? Nah makanya motivasi pendorong cenderung lebih kuat efeknya daripada motivasi penarik...

Tapi... kita butuh kedua motivasi itu...

Untuk semangat belajar, tumbuhkanlah kedua motivasi itu....


Buat motivasi penarik...
Kamu pikirin deh apa yg bakal kamu dapet dengan belajar giat... Nilai bagus... dapet rangking... citra diri di depan temen2 bakal bagus... bakal diperebutkan untuk belajar kelompok.... Bisa mencapai cita2 kamu... kalo kamu berhasil jadi pengusaha sukses kan kamu bisa beli apa aja... kalo kamu jadi astronot kamu bisa keliling semesta sesuka hati... kalo kamu jadi pilot kamu sering keliling dunia jalan2 gratis enak kan...?

Lalu kamu juga tumbuhkan motivasi pendorong kamu...
Kalo kamu ga belajar, apa yg akan terjadi?
Nilai kamu jeblog... raport merah... rangking anjlok... cita2 ga tercapai... dan yg paling parah... kamu telah menyakiti perasaan orang tua kamu... bisa kamu bayangkan beliau2 itu rela bekerja keras banting tulang cari uang hanya untuk bisa menyekolahkan kamu supaya kamu jadi orang berguna...? Lalu kamu menyia2kan usaha mereka? Tegakah kamu?

Yah gitu deh.............
Kamu mesti berfikir jernih.... Luangkan waktu untuk memikirkan tujuan hidup kamu apa sih... tujuan kamu belajar apa sih...

Mungkin kamu butuh penyegaran, refreshing dari kepenatan... tapi jangan lama2...

Setelah itu tata kembali hidupmu...
Tarik nafas dalam2...
Atur langkahmu ke depan.....
List apa yg akan kamu lakukan....
List cita2 dan harapan kamu....
Dan melangkahlah ke dunia.........
Tunjukan bahwa dirimu ada di dunia ini,, bukan cuma numpang lahir, hidup, trus mati ga berbekas apa2........

OK!!!!

di kutip Dari Yahoo answer

Aulia On Twitter